23.1.12

Lifetime - Destiny

Hari ini ada sebuah berita yang bisa dibilang sangat menggemparkan seluruh masyarakat Indonesia, terutama warga Jakarta. Berita kecelakaan maut mobil Xenia di Kawasan Tugu Tani yang dikendarai oleh seorang wanita yang menewaskan 9 orang tersebut agaknya bukanlah berita yang pantas untuk dikatakan biasa-biasa saja. It's an extraordinary news. Mobil Xenia tersebut menabrak orang-orang yang tidak bersalah, yang justru berada pada tempat yang semestinya (di halte-red).

Coba sejenak dipikirkan.
Sebenarnya masuk akal ngga sih kalo kejadian tersebut terjadi? Scara, para korbannya berada di tempat yang semestinya mereka berada. Para korban yang sama sekali tidak memikirkan bahwa pada hari itu, nyawa mereka harus dijemput di tempat mereka berdiri untuk menunggu angkutan. Siapa yang menyangka bahwa tiba-tiba akan ada sebuah mobil Xenia hitam yang melaju kencang dan merenggut nyawa-nyawa mereka?

Sepertinya ada satu pesan singkat yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita. Maut dapat menjemput kapan saja, dimana saja, di tempat yang tidak kita duga-duga. Bisa jadi, 10 detik setelah aku publish post ini, nyawaku sudah berpindah ke tangan Malaikan Izrail? Who knows? GOD KNOWS! Hanya DIA-lah yang mengetahui segala hal tentang hambanya, bahkan hal terkecil, terlihat maupun tak terlihat, bahkan segala detail tentang makhluknya. Tidak akan ada yang menyangka jika nanti ketika tidur, mungkin saja akan menjadi tidur kita selamanya.

Banyak hal yang harusnya kita renungkan. Untuk apa kita hidup. Apa tujuan hidup kita. Hal apa yang akan kita lakukan untuk mengisi waktu kita sebelum akhirnya giliran "wawancara" kita datang?

"Dan setiap umat mempunya ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun" (Q.S Al-A'raaf : 34)
Bila Izrail datang memanggil jasad terbujur dipembaringan. Seluruh tubuh akan menggigil, sekujur badan kan kedinginan. Tiada lagi gunanya harta, kawan karib sanak saudara. 

22.1.12

skip-a-log

Agak sedikit mellow memang malam ini. Tak lain dan tak bukan adalah setelah nge-stalking facebook beberapa orang. Ditambah dengan blogwalking semaleman suntuk kemaren, semakin membuatku gregetan.

Tadi siang aku sempat membuka salah satu facebooknya senior saat SMA. Dulu aku mengenal kakak ini saat menuntut ilmu di Forum Annisa (salah satu forum Rohis SMA-ku khusus para akhwat--perempuan). Memang tak banyak perbincangan dengan kakak ini, tapi aku ingat pada suatu ketika dia menyampaikan sebuah pesan dari seorang temannya untukku. Polos. Aku baru ngeh kalo pesan tersebut ternyata pesan merah jambu. Karena pesan itulah akhirnya kita agak dekat. Hingga akhirnya kakak ini lulus dan melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas di Yogyakarta.

Beberapa bulan lalu, saat aku menemukan kembali facebooknya, aku sempat terkaget karena ternyata beliau sudah menikah. Baru menikah. Penasaran, lagi-lagi jiwa stalker ku mengganas. Buka album, buka timeline facebooknya. Satu kata yang keluar dan selalu ingin mencuat keluar adalah "Subhanallah..." (Mahasuci Allah). Aku dapat merasakan bagaimana manisnya pernikahan mereka. Aku dapat merasakan bagaimana sucinya apa yang telah dan sedang mereka jalani ini. Setiap orang yang melihatnya pasti akan setuju, kalo mereka adalah pasangan yang so sweet.

"Pacaran setelah menikah"

Itulah yang kini mereka jalani. Aku selalu senang sekaligus iri setiap melihat kebersamaan mereka. Oh, diluruskan. Aku iri dengan "cara mereka bersatu". Aku pun bercermin pada diri sendiri.

Hahaha, aku tak bisa membandingkannya dengan diri sendiri. Jauh.
Dan malam ini pun, aku mellow.


*source : http://fatenmuhamad.tumblr.com/post/12904009250

SITTING is KILLING

*source: https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/404544_2591619713085_1332412254_32116752_1760580329_n.jpg

My Super Family

They are my family here.. in this super cruel city. Thankies dear bros and sisters :)

Semakin Kesini, Semakin Kesana

Jarum panjang 5 lewat sedikit dan jarum pendek di angka 2. Kondisi mata masih aja dalam keadaan segar. Begitu pula kondisi otak. Kondisi mood masih aman terkendali. Tapi tidak dengan kondisi pelupuk mata yang semakin menghitam. Risiko.

Ditemani Hoki (sesosok boneka owl putih yang super lucu), kembali malam ini dihabiskan dengan melakukan seabrek aktifitas tak bernilai (value-less activity). Eits tapi dibilang value-less nggak juga kok, hanya saja aktifitas malam ini harusnya tidak dilakukan hari ini atau jam ini atau detik ini. Mengotak atik blog dan tumblr. Posting apapun di twitter dan facebook. Oh! I'm so socmed-addict!

Yeah, I can't keep this things away. I always want to write everything. Regardless.

Topik malam ini terkait dengan major pendidikan di perkuliahan yang sedang aku ambil ini. Dulu ketika awal mula peradaban ada, aku masih dalam masa galau-digalaukan-menggalaukan yang super hebat. Psikologi masih selalu berputar-putar di otak. Belakangan, ketika aku mulai mencoba PDKT secara intensif dengan Akuntansi ini, perlahan hidayah mulai datang. Semester 3 nilai gemilang. Semester 4 agak merosot tapi masih cemerlang. Alhamdulillah. Mulai bersyukur.

Melihat kembali ke atas, kepada para sesepuh yang telah lebih dahulu meninggal-kan kampus ini, membuatku semakin mengerti nanti akan menjadi apa dan berada di posisi apa. Harapan baru mulai muncul saat banyak calon-calon masa depan yang mulai menghampiri (list pekerjaan-red.) Hmm, ternyata kecebur di jurusan ini juga nggak jelek-jelek amat.

Semester 5 ini aku mulai merasakan sensasinya sedikit demi sedikit. Banyak hal yang sebenarnya dari dulu sudah diajarkan baru yang membuatku sering mengangguk-angguk. Aku lebih banyak mengerti dan paham kemana arah pembicaraan panjang mulai dari Principle of Accounting, Intermediate Accounting, Advance Accounting, Auditing, Taxation, Cost Accounting, dan teman-temannya akan berlabuh.

Tapi, ternyata pemahaman itu tidak diikuti dengan meningkatkan semangat belajar dan berjuangku. Entah karena sudah sangat addict dengan dunia maya, atau karena memang sudah mencapai puncak kebosanan tingkat tinggi. Well. Jadinya semakin kesini, malah jadi semakin kesana--kemana-mana.

Harus ada tuas pengungkit semangat! Penggebu dan pembangkit kembali api yang mulai padam karena ditiup syaiton-syaiton jahannam penghuni neraka. Semoga Tuhan memberikanku Malaikat yang senantiasa menjagakan api semangat ini untuk tetap menyala.

Dear God.. I can't live without you..

Will You?

Yep!
Will You?
Hehehe,,

It's All About Senyum

"Kapan terakhir kamu tersenyum?"
"Entahlah, mungkin beberapa tahun yang lalu, saat semuanya masih baik-baik saja"
"Apanya yang baik-baik saja?"
"Situasi hati"
*kemudian hening*

***

"Apa yang bisa membuatmu tersenyum?"
"Hmm.. Banyak"
"Coba sebutkan salah satunya"
"Kamu"
*edisi gombal*

**

"Coba kesini sebentar deh, penting!"
"Ada apa?"
"Bantuin aku milih-milih foto yang bagus"
"Foto siapa?"
"Udah liat dulu aja sini"
kemudian beranjak ke depan laptop
"Bagaimana? Foto yang paling bagus yang mana? Yang senyumnya dikit, sedang, apa banyak?"
mikir kemudian berkomentar "Gw bingung milihinnya. Habisnya semua foto diambil dari angle dan pose yang sama. Dan semuanya manyun"
*terdiam*

***

"Menurut kamu, cewek yang manis itu yang gimana sih?"
"Yang senyumnya indah"
"Oh ya? Aku manis dong?"
"Iya. Kamu manis kayak gula"
*ngasal*

21.1.12

Imagine The World Without Love from Our Parents

Ada satu part unik dalam bukunya @radityadika yang terbaru, “Manusia Setengah Salmon”. Part itu adalah tulisan yang dikasi judul “Kasih Ibu Sepanjang Belanda”. Part itu adalah part paling menyentuh dan paling berasa dalemnya dari semua part yang lain dalam buku tersebut. Berikut sedikit cuplikannya:
Pergi ke Utrecht University dari asrama ternyata lebih gampang dari yang gue perkirakan. Ini karena gue udah mencari tau cara untuk sampai ke sana sebelumnya. Cukup banyak mahasiswa Utrecht pergi ke kampus dengan menumpangi bus. Seperti hari ini. Gue yang tengah menikmati suasana di dalam bus, tiba-tiba dikagetkan dengan handphone yang berbunyi.
Nyokap

Ya, seperti yang sudah gue duga, begitu Nyokap tahu nomor handphone gue di Belanda, dia akan menelepon hampir setiap jam. Bertanya apakah gue aman-aman saja. Merasa risih, akhirnya gue memilih profil silent di handphone.
Gue biarkan SMS dan telepon-telepon Nyokap tidak terbalas, sampai nanti malam, ketika gue punya waktu untuk membalasnya.
***
Perjalanan ke Belgia kami tempuh dengan naik bus. Gue duduk di sebelah Perek. Di sepanjang perjalanan, lagi-lagi handphone gue berbunyi, yang segera gue silent. Perek sempat bertanya siapa yang menelepon, lalu gue bilang bukan siapa-siapa. Tentu, yang menelepon adalah Nyokap, dan tentu gue gak mau Perek tahu bahwa gue masih dicariin Nyokap di umur segini. Gue gak mau kejadian sewaktu SMP terulang kembali.

***

Perek dan gue kembali ke daerah lukisan. Setelah melihat berbagai macam lukisan yang sebagian besar tergambar peperangan atau raja-raja, kami berhenti cukup lama di depan sebuah lukisan besar yang menggambarkan seorang ibu-ibu sedang meratap. Lagi-lagi, si Perek manggut-manggut, dia memandangi hampir setiap senti lukisan yang ada di depan kami ini, guratan di wajah ibu-ibu tersebut, sampai ke tatapannya yang seolah tajam melihat kami.

Perek lalu bilang, ‘Lukisan ini terasa berat sekali, Dika. Kelihatannya sederhana, tetapi aku bisa merasa seolah-olah ibi-ibu di lukisan ini bicara sama aku.’

Gue memandangi perek, lalu meledek, ‘Bicara sama kamu? Bicara apaan? Dia bilang Perek… Aku ibu kamu, Perek… aku ibu kamu… Aku ibu kamu yang memberikan nama kamu Perek… 

‘Bukan seperti itu, Dika! Jangan bercanda! Aduh, aku tidak tahu, lukisan ini kaya ngingetin aku sama ibuku.’

‘Ibu kamu? Tinggal telepon aja kan?’

‘Ya kalau aja bisa segampang itu tinggal menelepon dia.’

‘Emangnya kenapa?’

‘Dia sudah lama enggak ada.’ Perek lalu menghela napasnya. ‘Meninggal sewaktu aku kecil.’

‘Oh, maaf, Perek,’ kata gue, agak gak enak karena abis ngeledekin.

Perek hanya tersenyum, ‘Gak papa, Dika. Udah lama juga, kok.’

***

Gue seolah disadarkan. Lukisan ibu-ibu yang sedang menatap dan kenyataan yang barusan Perek lontarkan membuka mata gue bahwa sebenarnya jarak antara gue dan Nyokap hanya satu kali pencetan telepon. Sementara, jarak Perek dan ibunya sudah sangat jauh. Mereka bahkan beda alam.

Gue ngerasa sangat bodoh. Sementara gue berusaha untuk tidak terlihat dicariin oleh Nyokap karena malu, Perek malah justru sama sekali tidak bisa dicariin sama nyokapnya.
Dengan Perek disebelah gue, yang masih memperhatikan lukisan ibu-ibu tersebut, gue mengangkat telepon dan memencet nomor Nyokap.

***

Ketika gue melangkah ke luar dari museum seni di Belgia, gue berpikir ulang tentang konsep mandiri. Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dari orang tua kita.

Sebaiknya, semakin bertambahnya umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua kita.

Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orang tua. Kemungkinan yang paling besar adalah orang tua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orang tua kita bakalan meninggalkan kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali.

Gue gak mau suatu malam, setelah Nyokap pergi, gue melihat handphone dan berpikir seandainya gue bisa dengar suara Nyokap sekarang. Saat ini juga, gue pengin setiap waktu yang gue habiskan, gue bisa habiskan dengan mendengar Nyokap berkali-kali nelepon dan nanya, ‘Kamu lagi apa?’

Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orang tua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.
GOD!
Ga terasa setelah baca bagian itu, air mataku menetes. Hampir mirip dengan nasehat seorang sahabat yang gak lama aku terima. Mengusung tema yang sama. Orang tua. Pikiran itu kemudian berputar-putar di otakku.
Semakin cepat kamu lulus, semakin cepat kamu meringankan beban orang tua, semakin cepat kamu berguna buat ngegantiin tanggung jawab ortu kamu ke adek-adekmu…

Adek-adek kamu itu prioritas yang paling utama. Karenn jangka panjang itu tanggung jawab kamu. Masa depan mereka ada ditangan kamu. You are. Ketika kamu dan adek-adek kamu sukses, bisa membahagiakan orang tua bukan? Pikir kalau sebaliknya?

2012, kita masih belum terlambat untuk menjadi lebih baik dan penanggung jawab bagi adek-adek dan kebahagiaan orang tua kita. Tapi ketika kita udah menikah? Damn, just too late. Buat aq, aq punya tanggungjawab istri dan anak. Buat kamu, suami yg utama. Jatah ortu kian terkikis.

Kita sama-sama bukan dari keluarga yag mengandalkan warisan harta ataupun networking. Keringat kita adalah satu-satunya sumber utama kita. Stop comparing others. You have to move by yourself. Biarkan yang lain seperti apa, kamu punya target. Itu yang harus kamu capai.
Beberapa hari setelahnya, aku melihat album foto adekku saat jalan-jalan sekeluarga, tanpa aku. Melihat papa yang sudah semakin tua dan mungkin beberapa tahun lagi akan pensiun. Melihat mama yang masih semangat bekerja hampir full time dan kurang istirahat untuk dirinya sendiri.

Alhamdulillah sampai detik ini aku masih bisa mendengarkan suara mereka, mendengarkan cerita mereka dan begitu sebaliknya. Melihat senyuman mereka, walau hanya lewat foto-foto sebelum aku kembali ke rumah yang sangat kurindukan.

God! Gak kebayang apa yang akan terjadi ketika semua kebahagiaan itu terenggut satu tarikan nyawa oleh Malaikan Izrail. Gak kebayang ketika salah satu dari kita sudah berbeda dunia.

Semoga Papa Mama selalu diberikan kesehatan, umur panjang, selalu disayang ALLAH. Begitu juga untuk Cici dan Tata, adik-adikku tersayang.