Tiba-tiba malem ini saya teringat akan blog yang sudah lumayan lama tidak diapa2kan, dan saya berniat untuk mengapa2kannya malam ini (haha). Sampai terpikirlah sebuah ide untuk menuliskan sesuatu yang sebenernya sudah ada di otak sejak lama. Oke, ga usah lama lama let's cekidot!
Jadi cerita bermula ketika saya melihat acara Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih alias upacara 17-an di Istana Negara lewat TV di rumah. Entah mengapa ketika 17-an, satu-satunya acara yang tidak ingin saya lewatkan adalah siaran upacara tersebut. Intinya sih ingin melihat "canggih"nya para Paskibraka Nasional itu dalam menjalankan tugas mulia mereka. Dari dulu sampai sekarang saya selalu IRI setiap melihat mereka berjalan dengan wibawa, penuh percaya diri, dan pastinya rasa bangga yang luar biasa membawakan (duplikat) bendera pusaka, mengibarkan dan (serta sorenya) menurunkan. Setiap tahun dengan gerakan yang sama, urutan yang sama, warna baju yang sama, hanya wajah-wajahnya saja yang berbeda, tapi saya tidak bosan. Hmm, saya jadi berpikir apa dengan sedikit kontribusi saya dalam mengganti channel TV untuk melihat upacara ini saya dapat dikatakan memiliki rasa nasionalisme? Haha mungkin baru 1/1000000000000 dari total nasionalisme yang ada.
Lanjut, hal lain yang menarik dalam acara ini adalah "Andhika Bhayangkari". Mengapa ini begitu menarik bagi saya? Alasan pribadi sebenarnya. Karena dulu saya pernah tergabung dalam grup band SD dan setiap pagi seninnya (setiap upacara bendera) hal yang satu ini pasti dimainkan. KOK?? Karena saya masuk SD dibawah yayasan tentara (lupa istilahnya). Pokoknya orang menyebutnya SD tentara (bukan SD-nya para tentara loh ya..)
Next, inilah salah satu sisi lain yang membuat saya begitu antusias nonton upacaranya. Sesi Paduan Suara. Dari dulu sampai sekarang selalu tertarik dengan seni suara, terlebih sejak kuliah ini saya masuk ke sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKMa) di kampus, yaitu Paduan Suara dan saya mulai mengerti keindahan "pecah-pecah" suara. Maklum dulu semasa SMP dan SMA, paduan suaranya masih "satu" suara. Oke curhatnya pending, lanjut! Nah disana yang tampil setiap tahunnya adalah Paduan Suara Gita Bahana Nusantara. Wooow~ Dari namanya saja sudah WOOW terlebih melihat penampilannya. Sampai-sampai kami (saya dan anggota paduan suara lainnya) memenuhi timeline twitter dengan tweet tweet mengenai paduan suara. GOOD JOB! *standing applause*
Gita Bahana Nusantara membawakan medley lagu daerah, kemudian lanjut lagu-lagu lainnya termasuk lagu Syukur dan lagu ciptaan SBY (aah~ maaf saya lupa judulnya, ingatan saya bermasalah belakangan ini). Nah mulailah disini perdebatan muncul. Perdebatan macam apa? Cekidot lagi..
Ada yang mencacinya karena karyanya itu, hmm maksud saya, "nya" itu adalah Bapak Presiden dan "karya" adalah lagu ciptaannya. Mereka mengatakan, "ngurus negara aja belom beres" lah, apa lah, ini lah, itu lah. Hmm inilah salah satu hal yang saya tidak setuju. Bukan karena saya adalah salah satu orang yang memilih beliau di pemilu dulu, bukaaaan. Tapi ini lebih ke alasan psikologis. Haha tau apa anak ekonomi dengan ilmu psikologi?
Bagi beberapa komentar cacian, saya memberikan pandangan tidak setuju. Menurut apa yang saya yakini benar sampai detik saya menulis blog ini, ya wajar-wajar saja jika beliau membuat lagu. Ada yang salah? Oh, masalah negara masih banyak. Ok, saran saya tampung. Oh, hanya mencari sensasi. Ok, saya tampung lagi. Oh, mentang-mentang jadi presiden, biar albumnya laku. Haha, saran anda masih saya tampung. Nah, mari dengarkan pendapat saya. Ada 2 pilihan untuk anda, terima (boleh dg tambahan kritikan dan saran) atau abaikan (sama sekali tidak setuju atau tidak peduli).
Seseorang memiliki cara yang berbeda untuk mengungkapkan apa yang mereka ingin sampaikan kepada orang lain. Setiap orang juga memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda dalam segala hal, dan tidak ada yang sama persis, walaupun dalam bidang yang sama. Nah, jika kini kita melihat pada diri kita sendiri. Ketika kita menghadapi keadaan stress dalam menghadapi masalah, apa yang akan kita lakukan? Yap! Mencari cara untuk refresh, menyegarkan otak, mencari hal-hal yang akan membuat kita sejenak melupakan masalah itu. Caranya banyak, bisa dengan mendaki gunung, menulis puisi, mendengarkan lagu, dan salah satunya ya itu, menulis lagu. Mari kita posisikan diri kita sebagai seorang presiden. Waaah, begitu banyak tuntutan masyarakat, beban 230juta manusia Indonesia di pundak seorang presiden. Mungkin hampir setiap detik adaaa ada saja keluhan masyarakat ini. Kapan beliau punya waktu itu refresh itu? Ya salah satunya ketika waktu senggang, dengan membuat lagu.
Beliau punya bakat, dan terbukti kan? Sudah berapa lagu-lagu karangan beliau yang dinyanyikan dan sampai membuat kita pendengarnya merinding?
Lagi-lagi ini hanyalah pemikiran mentah-mentah saya. Bukankah kita bisa berbangga memiliki presiden yang memiliki bakat yang luar biasa? (mengapa saya katakan luar biasa? karena saya saja belum tentu bisa membuat karya yang sebaik beliau). Jadi, dapat saya simpulkan bahwa setiap orang berhak untuk memiliki bakat dan kemampuan dibidang apa saja, dan bebas untuk menyalurkannya dalam bentuk apapun (asal tidak anarkis) dan mari kita menghargai karya-karya mereka dengan tetap berkarya. :)
Belajar bagaimana menghargai memang tidak semudah pengucapannya, bahkan sayapun masih belajar untuk itu dan sering juga gagal. Tapi apapun itu, setidaknya ini bisa dijadikan motivasi untuk saya dan untuk anda sekalian untuk tetap belajar dan belajar.
Kalau menurut saya bukan karyanya yang jelek atau tidak menarik. Tapi yang menjadi alasan sebagian masyarkat "mencaci" adalah soal momentum.
ReplyDeleteDisaat orang-orang di luar sana masih mengalami kemiskinan.
Disaat kasus-kasus korupsi mulai merebak dan belum terlihat adanya kemajuan yang berarti dari solusi tersebut.
Pada akhirnya semua terakumulasi dan menjadi satu bagian dari barisan masyarakat sakit hati.
Lebih sakit hati lagi mereka rasakan saat tahu disaat-saat susah mereka, Bapak Presidennya malah lagi enak-enakan buat lagu, nyanyi dan (mungkin, saya juga tidak tahu) mendapat royalti dari yang dikatakan hobinya. Sementara masyarakat daru barisan sakit hati itu belum sembuh-sembuh rasa sakit hatinya.
Ibarat kamu lagi sakit, eh ibu kamu malah lagi enak-enakan nonton tv padahal belum bikin makanan. Meskipun mungkin selagi ibu kamu nonton beliau jg sedang berpikir mau masak apa.
Kalau saran saya sih lebih baik kalau beliau mau ciptakan lagu, ciptain aja sebanyak2 tapi di publish-nya nanti2 aja. Soalnya kalau di publish skr jg ada kesan aji mumpung. Kecuali bapak memang tidak turun2 dari jabatannya berpuluh-puluh tahun seperti mantan presiden Soeharto begitu tapi yaa gak sekarang juga di saat negara lagi berada di posisi hampir genting.
it's my opinion. no offense! ^^
Terima kasih atas pendapatnya saudari tiara :D
ReplyDeletesenang ada yang mengkritik ataupun memberikan masukan,,
ya benar juga sih yang kurang tepat adalah momentumnya,,
dan ditambah dengan permasalahan dengan malaysia, anggota DPR, dsb menjadikan keadaan semakin kacau.
semoga Indonesia kita bisa bangkit, semoga dalam waktu dekat, dan pemimpin selanjutnya adalah pemimpin yang bisa membuat Indonesia lebih baik :D
kenapa ayu kaku bgt sh?? ckckck..
ReplyDeletepasti g buka blog saya..
di roll donk blog saya :D
This comment has been removed by the author.
ReplyDeletehaha aku baru tahu kalo ini kak tituuut *peace kak,,
ReplyDeletesiip siip aku roll ya,,
*rolling, action!*
kak tituuut, ajarin nulis dong dong :D
itu apa hayoo yg di-remove??
ReplyDeletesaya jg masih belajar kok dek hehehe..
sering2 aja blogwalking biasanya banyak inspirasi setelahnya mau nulis apa hehehe