23.8.12
Ied Mubarak's Story (2)
Lebaran di Bogor ini, beda banget sama lebaran di Bukittinggi, kampung saya. Hemm beberapa perbedaannya:
(1) Solat Ied di Bogor, ceramahnya menggunakan bahasa Sunda, sedangkan di Bukittinggi menggunakan bahasa Minang #yaiyalah
(2) Seusai solat, seluruh jamaah saling salim satu sama lain and make a line, jadi se-kampung saling salim-salim-an. After Solat Ied, dikasi ketupat + gulainya. Itu kalo di Bogor, kalo di Bukittinggi, ya after solat, saling salim sih, tapi ya random begitu aja. Habis itu pulang ke rumah masing-masing.
(3) Seusai salim sekampung, keluarga Tante berkumpul di rumah Nenek (ibunya Tante). Karena disana rumah anaknya nenek deket-deketan, jadilah semuanya ikut berkumpul sambil membawa piring, ketupat, dan sajian lauk dari rumah mereka masing-masing. As always, sajian dari rumah tante: RENDANG! Semua anak nenek sampe cucu nenek kumpul disana, makan bersama, tertawa bersama, bagi-bagi THR bersama. Sweet. Beda kalo di Bukittinggi, biasanya langsung pulang dulu ke rumah Kakek (ayah Mama), trus makan nasi dulu, baru deh jalan ke rumah Bako (istilah untuk keluarga dari Ayah). Cuss!
(4) After "breakfast" together di rumah Nenek, kami kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas seperti biasa. Kalo di Bukittinggi, biasanya lebaran pertama pergi ke Koto Baru (daddy's hometown) buat silaturrahmi disana, baru hari keduanya silaturahmi di kampung Mama (Singapur).
Yah, lumayan berbeda. I do happy both of them :)
Siang itu, saya main-main ke rumah si kembar Nova-Novi sehabis makan bakso (yummie). Saya berbincang-bincang dengan si sulung, Nova. Dia bercerita tentang kerjaannya. And in the middle of talking, I start thinking that she is amazing! Why?
Sebagai anak pertama, dia perkepribadian keras. She's a tough girl. Dia mencari duit, tapi bukan untuk kesenangannya, melainkan untuk kesenangan adik-adik dan ibunya. Dia sudah bisa beli spring bed + lemari pakaian baru buat Novi (adik kembarnya), walaupun dengan metode cicilan, bisa beliin adiknya laptop, dan sedikit demi sedikit mencicil motor untuk keperluannya kerja. Dia benar-benar tahu bagaimana harusnya menjadi anak pertama, mengerti akan tanggung jawab di pundaknya. Dia sempet bilang, "gua mau nyicil bahan buat bikin rumah, Teh. Kan diantara semua rumah anaknya Nenek, cuma rumah gua yang paling kecil. Nah, gua pengen nyicil dikit-dikit". Bahkan dia sudah berpikir jauuuuuuuh kedepan.
Saya bercermin diri. Sudahkan pengorbanan seperti itu untuk keluarga? Sudahkan membahagiakan Cici, Tata, Mama, Papa? Sudahkah menjadi anak pertama yang tidak egois?
Well, thanks dedek Nova. I can't tell you how much I owe you through your stories. Be happy, sometimes think about your self first :P
In Bogor, I found peace. I found rain (finally). I found pure hearts. I found respect and hopes.
Thanks.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment