21.1.12

Imagine The World Without Love from Our Parents

Ada satu part unik dalam bukunya @radityadika yang terbaru, “Manusia Setengah Salmon”. Part itu adalah tulisan yang dikasi judul “Kasih Ibu Sepanjang Belanda”. Part itu adalah part paling menyentuh dan paling berasa dalemnya dari semua part yang lain dalam buku tersebut. Berikut sedikit cuplikannya:
Pergi ke Utrecht University dari asrama ternyata lebih gampang dari yang gue perkirakan. Ini karena gue udah mencari tau cara untuk sampai ke sana sebelumnya. Cukup banyak mahasiswa Utrecht pergi ke kampus dengan menumpangi bus. Seperti hari ini. Gue yang tengah menikmati suasana di dalam bus, tiba-tiba dikagetkan dengan handphone yang berbunyi.
Nyokap

Ya, seperti yang sudah gue duga, begitu Nyokap tahu nomor handphone gue di Belanda, dia akan menelepon hampir setiap jam. Bertanya apakah gue aman-aman saja. Merasa risih, akhirnya gue memilih profil silent di handphone.
Gue biarkan SMS dan telepon-telepon Nyokap tidak terbalas, sampai nanti malam, ketika gue punya waktu untuk membalasnya.
***
Perjalanan ke Belgia kami tempuh dengan naik bus. Gue duduk di sebelah Perek. Di sepanjang perjalanan, lagi-lagi handphone gue berbunyi, yang segera gue silent. Perek sempat bertanya siapa yang menelepon, lalu gue bilang bukan siapa-siapa. Tentu, yang menelepon adalah Nyokap, dan tentu gue gak mau Perek tahu bahwa gue masih dicariin Nyokap di umur segini. Gue gak mau kejadian sewaktu SMP terulang kembali.

***

Perek dan gue kembali ke daerah lukisan. Setelah melihat berbagai macam lukisan yang sebagian besar tergambar peperangan atau raja-raja, kami berhenti cukup lama di depan sebuah lukisan besar yang menggambarkan seorang ibu-ibu sedang meratap. Lagi-lagi, si Perek manggut-manggut, dia memandangi hampir setiap senti lukisan yang ada di depan kami ini, guratan di wajah ibu-ibu tersebut, sampai ke tatapannya yang seolah tajam melihat kami.

Perek lalu bilang, ‘Lukisan ini terasa berat sekali, Dika. Kelihatannya sederhana, tetapi aku bisa merasa seolah-olah ibi-ibu di lukisan ini bicara sama aku.’

Gue memandangi perek, lalu meledek, ‘Bicara sama kamu? Bicara apaan? Dia bilang Perek… Aku ibu kamu, Perek… aku ibu kamu… Aku ibu kamu yang memberikan nama kamu Perek… 

‘Bukan seperti itu, Dika! Jangan bercanda! Aduh, aku tidak tahu, lukisan ini kaya ngingetin aku sama ibuku.’

‘Ibu kamu? Tinggal telepon aja kan?’

‘Ya kalau aja bisa segampang itu tinggal menelepon dia.’

‘Emangnya kenapa?’

‘Dia sudah lama enggak ada.’ Perek lalu menghela napasnya. ‘Meninggal sewaktu aku kecil.’

‘Oh, maaf, Perek,’ kata gue, agak gak enak karena abis ngeledekin.

Perek hanya tersenyum, ‘Gak papa, Dika. Udah lama juga, kok.’

***

Gue seolah disadarkan. Lukisan ibu-ibu yang sedang menatap dan kenyataan yang barusan Perek lontarkan membuka mata gue bahwa sebenarnya jarak antara gue dan Nyokap hanya satu kali pencetan telepon. Sementara, jarak Perek dan ibunya sudah sangat jauh. Mereka bahkan beda alam.

Gue ngerasa sangat bodoh. Sementara gue berusaha untuk tidak terlihat dicariin oleh Nyokap karena malu, Perek malah justru sama sekali tidak bisa dicariin sama nyokapnya.
Dengan Perek disebelah gue, yang masih memperhatikan lukisan ibu-ibu tersebut, gue mengangkat telepon dan memencet nomor Nyokap.

***

Ketika gue melangkah ke luar dari museum seni di Belgia, gue berpikir ulang tentang konsep mandiri. Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dari orang tua kita.

Sebaiknya, semakin bertambahnya umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua kita.

Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orang tua. Kemungkinan yang paling besar adalah orang tua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orang tua kita bakalan meninggalkan kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali.

Gue gak mau suatu malam, setelah Nyokap pergi, gue melihat handphone dan berpikir seandainya gue bisa dengar suara Nyokap sekarang. Saat ini juga, gue pengin setiap waktu yang gue habiskan, gue bisa habiskan dengan mendengar Nyokap berkali-kali nelepon dan nanya, ‘Kamu lagi apa?’

Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orang tua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.
GOD!
Ga terasa setelah baca bagian itu, air mataku menetes. Hampir mirip dengan nasehat seorang sahabat yang gak lama aku terima. Mengusung tema yang sama. Orang tua. Pikiran itu kemudian berputar-putar di otakku.
Semakin cepat kamu lulus, semakin cepat kamu meringankan beban orang tua, semakin cepat kamu berguna buat ngegantiin tanggung jawab ortu kamu ke adek-adekmu…

Adek-adek kamu itu prioritas yang paling utama. Karenn jangka panjang itu tanggung jawab kamu. Masa depan mereka ada ditangan kamu. You are. Ketika kamu dan adek-adek kamu sukses, bisa membahagiakan orang tua bukan? Pikir kalau sebaliknya?

2012, kita masih belum terlambat untuk menjadi lebih baik dan penanggung jawab bagi adek-adek dan kebahagiaan orang tua kita. Tapi ketika kita udah menikah? Damn, just too late. Buat aq, aq punya tanggungjawab istri dan anak. Buat kamu, suami yg utama. Jatah ortu kian terkikis.

Kita sama-sama bukan dari keluarga yag mengandalkan warisan harta ataupun networking. Keringat kita adalah satu-satunya sumber utama kita. Stop comparing others. You have to move by yourself. Biarkan yang lain seperti apa, kamu punya target. Itu yang harus kamu capai.
Beberapa hari setelahnya, aku melihat album foto adekku saat jalan-jalan sekeluarga, tanpa aku. Melihat papa yang sudah semakin tua dan mungkin beberapa tahun lagi akan pensiun. Melihat mama yang masih semangat bekerja hampir full time dan kurang istirahat untuk dirinya sendiri.

Alhamdulillah sampai detik ini aku masih bisa mendengarkan suara mereka, mendengarkan cerita mereka dan begitu sebaliknya. Melihat senyuman mereka, walau hanya lewat foto-foto sebelum aku kembali ke rumah yang sangat kurindukan.

God! Gak kebayang apa yang akan terjadi ketika semua kebahagiaan itu terenggut satu tarikan nyawa oleh Malaikan Izrail. Gak kebayang ketika salah satu dari kita sudah berbeda dunia.

Semoga Papa Mama selalu diberikan kesehatan, umur panjang, selalu disayang ALLAH. Begitu juga untuk Cici dan Tata, adik-adikku tersayang.

19.1.12

Rindu

Semua orang pasti dong pernah merasakan yang namanya Rindu. Yah kalo istilah umumnya sekarang sih "Kangen". Rindu lebih sering dipakai dalam tulisan-tulisan yang sangat puitis atau untuk menunjukkan sebuah perasaan kangen yang begitu mendalam.
Sekali lagi.

RINDU.

Perasaan rindu akan semakin terasa menyesakkan terlebih kalau berada dalam situasi-situasi pengungkit perasaan itu sendiri. Misalnya, melihat sesuatu yang dapat membangkitkan momen-momen pembuat rindu, atau mendengarkan sesuatu, mencium bau sesuatu. Intinya berkaitan dengan panca indra. Selain itu, suasana sekitar pun turut mempengaruhi perasaan rindu tersebut. Sebut saja hujan. Rain is perfect!
Sekali lagi.

RINDU.

Rindu tidak hanya dapat dirasakan kepada seseorang, tapi juga kepada sesuatu. Selama ini setiap kata-kata "rindu" atau "kangen" disebutkan, setiap orang pasti langsung menanggapi dengan pertanyaan: "SIAPA?". Oh oke. Apakah rindu harus dengan seseorang? Tentu saja TIDAK. Perasaan rindu dapat terjadi pada apa saja (mencakup benda hidup ataupun benda mati, terlihat maupun tidak terlihat).
Sekali lagi.

RINDU.

Telepon mama ketika itu membuatku benar-benar meRINDUkan rumah dan seisinya. MeRINDUkan segala hal yang berhubungan dengan "surga" kami. Kali ini baru terasa makna dari: "Rumahmu, Istanamu. Jadikanlah rumahmu sebagai "surga"mu". Suerr itu makna dalem banget. What's wrong with my home? Nothing's wrong. I just MISS. KANGEN. RINDU berada disana lagi..

Sekali lagi.

RINDU.

9.1.12

Terus mau makan apa dong?

Sabtu itu hujan, pagi-pagi sudah harus ke kampus untuk make up class Advance Accounting II. Mager (males gerak) banget sebenernya buat datang kelas karena suasana pagi itu super mendukung untuk kembali tidur dan menikmati indahnya Sabtu siang. Tapi berhubungan make up classnya untuk 2 pertemuan, mau ga mau harus bergerak!

Saat break, sang dosen tiba-tiba ngomong tentang makanan-jajanan yang ada di Jakarta. Dimulai dari jajanan gorengan yang katanya di dalam minyaknya udah dicampur plastik biar rasa gorengan menjadi gurih. Berlanjut ke makanan yang diolah dengan menggunakan berbagai macam bahan kimia, seperti borax, formalin, dll. Ada juga makanan yang diolah ditambah dengan karet/ban bekas untuk membuat makanan tersebut semakin alot.

Memang, saat sebelum tinggal di Jakarta, aku sering banget melihat siaran-siaran di televisi yang menyajikan berbagai cara orang untuk survive di Jakarta, termasuk dengan cara-cara tidak halal yang sangat membahayakan nyawa orang lain. That's why dulunya aku bener-bener takut dan bahkan sempat bilang kalo aku ngga akan tinggal di Jakarta. "Jakarta itu menyeramkan".

Es balok yang terbuat dari air sungai/air mentah lah, sambel yang berasal dari cabe-cabe busuk lah, beras yang dicuci dengan air yang tidak steril lah, dan banyak lagi yang kalo benar-benar dipikirkan mungkin kita semua akan sepakat pada kesimpulan: "TERUS, GW MAU MAKAN APALAGI DONG?!".

Ya, semua penjelasan di atas sih rata-rata berlaku untuk makanan yang dijual dengan harga murah atau di tepi-tepi jalan (bukan bermaksud mengeneralize semua jajanan tepi jalan melakukan hal itu). Terutama untuk anak-anak kosan yang pastinya butuh makanan yang mengenyangkan dengan se-low cost mungkin kalo bisa gratis. Haha. Dan kalo mau mendapatkan makanan yang terjamin, 4 sehat 5 sempurna, kita memang harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam lagi untuk makan di resto atau pilihan lainnya: masak sendiri.

Memang, makanan yang dibuat sendiri akan sangat sangat lebih terjamin kebersihannya, kandungan vitamin, mineral, proteinnya, dibandingkan dengan makanan yang telah tersaji dimana-mana (apalagi makanan yang berbahaya tadi). Kita sebagai pengolah makanan pasti akan sangat memperhatikan hal-hal tersebut, karena kita juga yang bakalan makan, ya ga sih?

Dan pada akhirnya, semuanya kembali pada masing-masing orang. Mau makan murah dengan jumlah banyak tapi resikonya terdapat banyak "polusi" dimana-mana. Atau mau makan enak, bergizi, terjamin kebersihannya dengan harga yang setinggi langit. Atau mau makan yang terjamin kebersihannya tapi tergantung pada kemampuan mengolah makanan kita sendiri (alias makan sendiri)?

Semuanya kembali pada anda sendiri. :)

4.1.12

Happy New Year!

Hwoaaaa~
Happy New Year, fellas!

Just wanted to say, Happy New Year 2012. Yah tidak dapat disangkal, kalo siapapun di dunia ini bakalan menggunakan kalender Masehi sebagai patokan waktu universal bukan?

2012, begitu banyak resolusi yang pengen dicapai, diraih, didapatkan dan tentu saja sekali lagi tak ada salahnya menjadikan tahun baru ini sebagai MOMENTUM perubahan. 2011 lalu telah banyak diisi dengan segala bentuk kemalasan, yah selama setahun sudah cukup "bosan" lah ya harusnya berinteraksi dengan si "bosan" ini. 2012 adalah momen yang tepat buat kita MOVE ON.  :)

What will you do in 2012, Ay?
Many things, dude!
I want to be better.
"Better" disini pengertiannya luas dan tak terbatas. Satu kata itu agaknya sudah bisa mewakili semuanya. Lebih baik dari segi kepribadian (diri sendiri), akademik, sosial (bertetangga), karir, keuangan, percintaan, dll.

Semoga semua berjalan sesuai harapan. Karena jika tidak, aku bisa galau #ups.

Keep smiling, guys. May ALLAH always bless you :D

21.12.11

It's All About Planning

Akhir-akhir ini di otakku sedang terngiang-ngiang quote-nya pak Mario Teguh tentang cita-cita.
Cita-cita itu adalah impian yang bertanggal.
Yah kira-kira quote-nya seperti itu lah, intinya adalah ada deadline untuk mencapai cita-cita tersebut. Semakin memasuki tahun akhir perkuliahan, pastilah semakin memikirkan bagaimana masa depan. Semua orang yang berada di posisiku pasti sedikit banyaknya pernah kepikiran hal ini. Pikiran-pikiran seperti tamat kapan, kerja dimana, lanjut kuliah dimana, target masa depan, dsb.

Pertanyaan yang sama sekarang sedang muter-muter di otakku. Saat ini, aku sedang mengambil jurusan Akuntansi di sebuah universitas swasta di Jakarta. Agaknya hal tersebut bertolak belakang dengan keinginanku dulu *semacam cita-cita masa kecil: menjadi seorang psikolog*. Nah, hal ini yang membuatku tertarik untuk nanti suatu saat bekerja di bagian Human Resource perusahaan.

Wasting dong belajar akuntansi selama ini? Aku yakin ga ada yang sia-sia. Lagian masa depan ngga ada yang bisa prediksi kan? Untuk berada di Jakarta, Universitas Bakrie, Akuntansi ini juga sama sekali tak terduga.

So, what to do now?
PLANNING!
Planning setahun kedepan, rencana strategis lima tahun kedepan, ancang-ancang kehidupan sepuluh tahun kedepan. Agaknya sudah harus dipikirkan dari sekarang. Mau magang dimana dan berapa lama? Mau kerja dimana? Lanjutin kuliah apa dimana? Dll...

My head is full thinking about future, but I shouldn't forget to think about present!

What's your plan in 2012? =)

14.12.11

Europe - Just A Dream

*attention! When you read this writing, please ignore the grammar. Or you can give me some advice to correct it, since I'm bad in writing with English. Thanks and enjoy reading :D


"Here I am, once again. I'm torn into pieces..."
This is a story about my dreams. I have a lot of dreams for sure and one of them is "have a stage"! What does it mean?


A few month ago, I came with my friends to somewhere near Blok M, South Jakarta. We were about to had a choir class. I planned to join it because I thought that I will get more music skills than I've got in my campus choir. They welcomed us. Finally, I became one of them until one "big" news HIT me!


They will held a big concert on November. I really excited at first cause I had thought that it will be so amazing if I can have a stage! "I'll show my best", i said. But one night after class, a woman talked to me. Yah, eastern-people lah which follow high-context, she asked me a question about my performance with my veil. Will I be able to perform with that headscarf? In the name of heterogeneity, she asked me (and my friend) to think it over. 


And then, we discussed. I couldn't decided. It was so hard. I'm between my dreams and my religion. Finally, I decided to QUIT! Other words, not perform.


And yesterday, I heard a very good news from my-other-friend. He said that the choir plan to going abroad. In 2013, they are planning to go to EUROPE. CAN YOU IMAGINE?!!! 


E.U.R.O.P.E....?!!

Right  after he told me that news, I cried in front of him. It hurts. Neomu appayo!!!
But, my dream is just a dream. Maybe someday, I'll have my own stage. I'll stand in front of millions of people and give my best! And, I'm wondering, what stage it will be! :D







10.12.11

RT  @WOWKonyol: Egois itu kadang ga salah. Kl bukan km yg mikirin diri km sendiri, trus siapa dong? Gue? Temen2 gue? Jambul nenek gue?

7.12.11

Happy-face Spider

Suatu ketika di hari Minggu sore setelah Magrib, di toko buku "G" daerah Semanggi, aku iseng liat-liat buku sambil nungguin Siceli milih-milih buku yang mau dibelinya. Sampailah pandanganku pada sebuah buku yang bikin aku berdiri cukup lama di satu spot. Buku itu yang isinya 10 kejadian-kejadian unik di berbagai belahan dunia, yang tidak biasa, bahkan banyak diantaranya sama sekali tidak pernah terpikirkan sama sekali bakalan terjadi. Buku ini benar-benar bikin aku ngeluarin kata-kata "WOW", "Ooooo.." "APA?!!!" "Astagaa!" "ewh!" "hahahaha" dan ekspresi nano-nano lainnya. Tapi sayang sekali aku lupa nama bukunya apa, ntar kapan-kapan di posting deh judul bukunya.

Nah di dalamnya aku menemukan sesuatu yang baru aku tau, unik, dan bikin geli. Ada laba-laba yang namanya "Happy-face Spider". hmm, macam apa sih laba-labanya? Se-happy apa tampangnya? Check this out!
happy-face spider
Kata Wikipedia, "Theridion grallator, also known as the "happy face spider," is a member of the Theridiidae family. The Hawaiian name is nananana makakiʻi (face-patterned spider). The binomial grallator is Latin for "stiltwalker", reference to the species' long spindly legs.". Jadi ternyata dia memang asli laba-laba, bukan hasil editan apalagi rekayasa foto.. *hmm


Dikutip dari situs ini, "Mereka bisa ditemukan di Hawaii. Mereka bukanlah spesies laba-laba yang berbahaya bagi manusia. Pola pada abdomen kuningnya mirip dengan senyuman, walaupun ada juga yang tidak memiliki pola seperti ini. Spesies ini masuk kategori spesies langka karena berkurangnya habitat asli mereka.".



Nah binatang ini tidak berbahaya bagi manusia. Ukurannya sangat kecil sekitar 5 milimeter. Dia biasa ngumpet sepanjang hari. Berita sedihnya, saat ini sudah terancam punah. 


Lebih jauh, Wikipedia bilang: "Certain morphs have a pattern uncannily resembling a smilet face or a grinning clown face on their yellow body. Each spider has a unique pattern, and the patterns differ from island to island. Some lack markings altogether. On the island of Maui, the happy types seem to follow simple Mendelian inheritance rules, while on other Hawaiian islands the body inheritance patterns seem to be sex-limited. The variation is possibly a kind of camouflage against birds, their only natural enemies of significance, to counteract pattern recognition by predators. As the pattern may change according to what food the spider has eaten (Gillespie, 1989) and as T. grallator is very small, hides during the day, and is thus not a significant prey item for any species of predator, it is more likely that the bizarre variety of patterns serves no significant adaptive purpose at all."

macam2 penampakan Happy-face Spider