24.2.12

A New Day Will Come

First of all, I would like to say : "CONGRATULATIONS" for all my brothers and sisters who will graduate on February 25.

Tiada ucapan lain selain SELAMAT, SELAMAT, SELAMAT. Selamat berjuang menuju kehidupan sebenarnya. Selamat berjuang menuju pijakan yang lebih berguncang lagi. Selamat menempuh kehidupan baru.

Dulu sempat aku terpikir bagaimana jika saat itu datang, saat aku "kehilangan" kalian untuk selanjutnya. Dan perlahan tapi pasti, masa itu akan datang. Inilah saatnya...

Satu demi satu perlahan tapi pasti melangkah keluar menuju hutan sebenarnya. Satu demi satu menghilang dan susah sekali untuk diajak berkumpul kembali saat ada waktu. Satu demi satu...

Mungkin aku hanyalah orang baru dalam kehidupanmu. Baru juga kenal dua tahun, dibandingkan dengan persahabatan kalian yang terjalin selama lebih dari 4 tahun. Tak ada bandingan apa-apanya. Tapi ada satu yang ingin sekali aku katakan pada kalian, tapi aku tak berani untuk mengungkapkannya secara langsung.

Kalian telah menjadi bagian dari masa kuliahku disini. Aku tak pernah menemukan sebuah "keluarga" sebesar ini. Dengan kalian aku merasa nyaman, bersama kalian aku menjadi diriku sendiri. Aku punya banyak kakak. Aku punya banyak teman. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasa sebahagia ini memiliki sebuah anugrah terbesar.

Ketika akhirnya masa perpisahan itu harus tiba, aku tak tahu harus berkata apa. Tangis haru ini menjadi pelepas sekaligus doa untuk kakak-kakakku sekalian. Kalian harus sukses! Ga boleh ada satupun yang nggak sukses! Semuanya harus membuat aku bangga, dan begitupun sebaliknya.. Aku ingin membuat kalian bangga (haha siapa gue).

Terima kasih telah memperkenalkan ku dengan keluarga Arisan Mentas yang sangat ku sayang ini. Terima kasih telah menerimaku menjadi satu bagian dari kalian. Terima kasih atas didikan dan bimbingannya selama ini. Tiada yang dapat menggantikan kalian, karena kalian adalah keluargaku disini.

Selamat jalan kakak-kakakku sayang, selamat berjuang (kembali), doaku selalu menyertai kalian, dan berharap doa juga untukku cepat menyusul kalian :)

Love.. Love.. Love..

Arisan di Car Free Day Bunderan HI
Makan Es Unyil Kota Tua

Nonton "bintang" dan jelajah museum siang bolong
My First Car Free Day
Jelajah Pekan Raya Jakarta (PRJ)
Goes To Kebun Raya Bogor
Idul Adha Cimohay - Bandung

Tim Basket Taman Menteng
 Bakar-Bakaran Idul Adha
AY LOVE YOU SO MUCH :*

2.2.12

Great Advice

Malem itu, aku, mama, dan papa balik dari Bukittinggi habis menghadiri acara kondangannya kakak keponakan ku. Kakak keponakan? Ya, jadi ceritanya aku udah punya keponakan tapi dia lebih tua. Sambil jalan balik ke Padang, kita lewat Bukittinggi dulu mau liat suasana malemnya Bukittinggi. Sebagai anak yang lahir di Bukittinggi dan notabene setiap tahunnya balik terus kesana, aku tergolong "cupu" buat tau jalan di sana apalagi mau jalan malem-malem disekitaran Jam Gadang.

Nah ditengah jalan, papa nelpon temennya yang ternyata juga ada di Bukittinggi. Namanya Om Rudi. Kebetulan dia lagi nginep di D'Hills Bukittinggi bersama istrinya. Janji ketemuan, akhirnya kita ngobrol-ngobrol bentar di sebuah cafe deket hotelnya, itung-itung menikmati suasana malemnya pusat kota Bukittinggi #kapanlagi.

Ternyata si Om Rudi ini orangnya supel dan bersahaja. Baru pertama kenal, tapi berasa udah deket aja. Malem itu kita berbincang banyak hal, termasuk membahas tentang pendidikan (akademik). Dia dan istrinya nanya-nanya tentang perkuliahanku. Emang sih, belajar di sebuah instansi yang tergolong baru dan belum banyak didengar orang, membuat kita harus ekstra ngomong alias ngulang ngejelasin lagi. Bakrie itu gimana, akreditasinya apa, mata kuliahnya apa, konsentrasinya kemana-mana aja, dll.

Ternyata istrinya Om Rudi ini juga seorang dosen STIE di Surabaya (lupa nama kampusnya apa). Dinasehati ini itu sampai ke urusan sodara-persaudaraan (loh maksudnya?). Simak aja tulisanku sampe ending ya :)

Tante Rudi (istrinya om Rudi) kemudian menyarankan aku untuk langsung ngambil PPAK trus lanjutin S2. Soalnya sekarang untuk ngambil M.Ak, kalo kita udah ngambil PPAK, cuma bakal menjalani pendidikan 1 tahun aja. Ternyata pendidikan di PPAK udah di akui sebagai bagian dari pendidikan M.Ak. (angguk-angguk)

Pasangan Om-Tante Rudi ini pun kasih ada sebuah statement yang nge-jleb banget.
"Anak sulung itu, apalagi kalo cewek, ntar bakal jadi MAMA buat adek-adeknya. Bahkan adek-adeknya bakal lebih nurut ke kakak sulungnya itu daripada kepada orang tuanya sendiri"
Kata-kata kakaknya lah yang bakalan lebih di denger oleh adek-adeknya daripada kata-kata orang tua nya sendiri (bukan berarti durhaka pada orang tua loh, hanya lebih "patuh dan tunduk" saja). Hal itu juga sejalan sama yang selalu mamaku bilang, sebagai anak pertama punya beban moril dan materil yang besar di pundaknya. Dia harus bisa jadi role model buat adik-adiknya. Yap!

Anak pertama ibarat pemimpin kaum, adek-adeknya lah yang berperan sebagai followersnya. Kalo seorang kakak bisa memimpin dengan baik, akan dapat tercermin dari sikap dan perilaku adik-adiknya. Kompak atau tidaknya sebuah persaudaraan, di dalamnya ada peran besar dari si pemimpin kaum itu.

Banyak lagi pelajaran hidup yang secara tidak langsung aku terima malam itu. Entahlah, mungkin itu akan menjadi malam paling berkesan diantara malam-malam ku di Bukittinggi.

Thanks Om Rudi, thanks Tante Rudi. Semoga nanti kita bisa sering-sering bertemu :)

23.1.12

Lifetime - Destiny

Hari ini ada sebuah berita yang bisa dibilang sangat menggemparkan seluruh masyarakat Indonesia, terutama warga Jakarta. Berita kecelakaan maut mobil Xenia di Kawasan Tugu Tani yang dikendarai oleh seorang wanita yang menewaskan 9 orang tersebut agaknya bukanlah berita yang pantas untuk dikatakan biasa-biasa saja. It's an extraordinary news. Mobil Xenia tersebut menabrak orang-orang yang tidak bersalah, yang justru berada pada tempat yang semestinya (di halte-red).

Coba sejenak dipikirkan.
Sebenarnya masuk akal ngga sih kalo kejadian tersebut terjadi? Scara, para korbannya berada di tempat yang semestinya mereka berada. Para korban yang sama sekali tidak memikirkan bahwa pada hari itu, nyawa mereka harus dijemput di tempat mereka berdiri untuk menunggu angkutan. Siapa yang menyangka bahwa tiba-tiba akan ada sebuah mobil Xenia hitam yang melaju kencang dan merenggut nyawa-nyawa mereka?

Sepertinya ada satu pesan singkat yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita. Maut dapat menjemput kapan saja, dimana saja, di tempat yang tidak kita duga-duga. Bisa jadi, 10 detik setelah aku publish post ini, nyawaku sudah berpindah ke tangan Malaikan Izrail? Who knows? GOD KNOWS! Hanya DIA-lah yang mengetahui segala hal tentang hambanya, bahkan hal terkecil, terlihat maupun tak terlihat, bahkan segala detail tentang makhluknya. Tidak akan ada yang menyangka jika nanti ketika tidur, mungkin saja akan menjadi tidur kita selamanya.

Banyak hal yang harusnya kita renungkan. Untuk apa kita hidup. Apa tujuan hidup kita. Hal apa yang akan kita lakukan untuk mengisi waktu kita sebelum akhirnya giliran "wawancara" kita datang?

"Dan setiap umat mempunya ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun" (Q.S Al-A'raaf : 34)
Bila Izrail datang memanggil jasad terbujur dipembaringan. Seluruh tubuh akan menggigil, sekujur badan kan kedinginan. Tiada lagi gunanya harta, kawan karib sanak saudara. 

22.1.12

skip-a-log

Agak sedikit mellow memang malam ini. Tak lain dan tak bukan adalah setelah nge-stalking facebook beberapa orang. Ditambah dengan blogwalking semaleman suntuk kemaren, semakin membuatku gregetan.

Tadi siang aku sempat membuka salah satu facebooknya senior saat SMA. Dulu aku mengenal kakak ini saat menuntut ilmu di Forum Annisa (salah satu forum Rohis SMA-ku khusus para akhwat--perempuan). Memang tak banyak perbincangan dengan kakak ini, tapi aku ingat pada suatu ketika dia menyampaikan sebuah pesan dari seorang temannya untukku. Polos. Aku baru ngeh kalo pesan tersebut ternyata pesan merah jambu. Karena pesan itulah akhirnya kita agak dekat. Hingga akhirnya kakak ini lulus dan melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas di Yogyakarta.

Beberapa bulan lalu, saat aku menemukan kembali facebooknya, aku sempat terkaget karena ternyata beliau sudah menikah. Baru menikah. Penasaran, lagi-lagi jiwa stalker ku mengganas. Buka album, buka timeline facebooknya. Satu kata yang keluar dan selalu ingin mencuat keluar adalah "Subhanallah..." (Mahasuci Allah). Aku dapat merasakan bagaimana manisnya pernikahan mereka. Aku dapat merasakan bagaimana sucinya apa yang telah dan sedang mereka jalani ini. Setiap orang yang melihatnya pasti akan setuju, kalo mereka adalah pasangan yang so sweet.

"Pacaran setelah menikah"

Itulah yang kini mereka jalani. Aku selalu senang sekaligus iri setiap melihat kebersamaan mereka. Oh, diluruskan. Aku iri dengan "cara mereka bersatu". Aku pun bercermin pada diri sendiri.

Hahaha, aku tak bisa membandingkannya dengan diri sendiri. Jauh.
Dan malam ini pun, aku mellow.


*source : http://fatenmuhamad.tumblr.com/post/12904009250

SITTING is KILLING

*source: https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/404544_2591619713085_1332412254_32116752_1760580329_n.jpg

My Super Family

They are my family here.. in this super cruel city. Thankies dear bros and sisters :)

Semakin Kesini, Semakin Kesana

Jarum panjang 5 lewat sedikit dan jarum pendek di angka 2. Kondisi mata masih aja dalam keadaan segar. Begitu pula kondisi otak. Kondisi mood masih aman terkendali. Tapi tidak dengan kondisi pelupuk mata yang semakin menghitam. Risiko.

Ditemani Hoki (sesosok boneka owl putih yang super lucu), kembali malam ini dihabiskan dengan melakukan seabrek aktifitas tak bernilai (value-less activity). Eits tapi dibilang value-less nggak juga kok, hanya saja aktifitas malam ini harusnya tidak dilakukan hari ini atau jam ini atau detik ini. Mengotak atik blog dan tumblr. Posting apapun di twitter dan facebook. Oh! I'm so socmed-addict!

Yeah, I can't keep this things away. I always want to write everything. Regardless.

Topik malam ini terkait dengan major pendidikan di perkuliahan yang sedang aku ambil ini. Dulu ketika awal mula peradaban ada, aku masih dalam masa galau-digalaukan-menggalaukan yang super hebat. Psikologi masih selalu berputar-putar di otak. Belakangan, ketika aku mulai mencoba PDKT secara intensif dengan Akuntansi ini, perlahan hidayah mulai datang. Semester 3 nilai gemilang. Semester 4 agak merosot tapi masih cemerlang. Alhamdulillah. Mulai bersyukur.

Melihat kembali ke atas, kepada para sesepuh yang telah lebih dahulu meninggal-kan kampus ini, membuatku semakin mengerti nanti akan menjadi apa dan berada di posisi apa. Harapan baru mulai muncul saat banyak calon-calon masa depan yang mulai menghampiri (list pekerjaan-red.) Hmm, ternyata kecebur di jurusan ini juga nggak jelek-jelek amat.

Semester 5 ini aku mulai merasakan sensasinya sedikit demi sedikit. Banyak hal yang sebenarnya dari dulu sudah diajarkan baru yang membuatku sering mengangguk-angguk. Aku lebih banyak mengerti dan paham kemana arah pembicaraan panjang mulai dari Principle of Accounting, Intermediate Accounting, Advance Accounting, Auditing, Taxation, Cost Accounting, dan teman-temannya akan berlabuh.

Tapi, ternyata pemahaman itu tidak diikuti dengan meningkatkan semangat belajar dan berjuangku. Entah karena sudah sangat addict dengan dunia maya, atau karena memang sudah mencapai puncak kebosanan tingkat tinggi. Well. Jadinya semakin kesini, malah jadi semakin kesana--kemana-mana.

Harus ada tuas pengungkit semangat! Penggebu dan pembangkit kembali api yang mulai padam karena ditiup syaiton-syaiton jahannam penghuni neraka. Semoga Tuhan memberikanku Malaikat yang senantiasa menjagakan api semangat ini untuk tetap menyala.

Dear God.. I can't live without you..

Will You?

Yep!
Will You?
Hehehe,,